Opini

Minggu, 13 Mei 2012

Mahasiswa: Siap Kerja atau Menciptakan Lapangan Kerja?

Mahasiswa: Siap Kerja atau Menciptakan Lapangan Kerja?
*Oleh Muhammad Syaoki[1]
kita mesti berhenti membeli rumus - rumus asing
diktat - diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa - desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata
(penggalan sajak sebatang lisong karya WS Rendra)

Menarik untuk diamati berbagai aksi unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa  akhir-akhir ini seringkali menuntut pemerintah baik di tingkat kabupaten maupun di tingkat propensi untuk memperioritaskan putra daerah dalam penerimaaan CPNS. Karena menurut anggapan sederhana mereka, bahwa merekalah yang lebih berhak mengelola dan lebih mengetahui kondisi daerah mereka sendiri. Hal tersebut tentu menjadi bumerang bagi suatu daerah yang memiliki banyak penduduk dan taraf pendidikannya lumayan tinggi, dengan sendirinya lebih kompetitif dalam mencari lapangan kerja. Dan sebagai alternatif, maka  daerah lain terutama yang baru melakukan pemekaran adalah ladang basah bagi mereka. Rumput tetangga rupanya lebih hijau,,,
Sekarang ini tercatat hampir 6 hingga 7 juta Pegawai Negeri Sipil yang tersebar di berbgai daerah yang ada di Indonesia. PNS sepertinya adalah pekerjaan pavorit di negeri ini, mungkin karena masyarakat menganggap PNS adalah pekerjaan mudah yang menguntungkan, konon bahkan tidur pun mereka digaji. Hari tua tidak terlalu menjadi persoalan sebab uang pensiunan sudah menunggu. Selain itu status sosial seorang PNS yang cukup bergengsi di mata masyarakat bila dibadingkan dengan pekerjaan-pekerjaan lainnya. Sehingga wajar kenapa setiap kali diadakan tes CPNS jutaan sarjana rela menunggu berjam-jam agar dapat ikut serta dalam tes tersebut. bahkan tidak sedikit yang menggunakan “jalur kiri”.
Di abad ke XXI ini rupanya bermodal ijazah saja bukanlah jaminan seseorang yang telah menyelesaikan studinya akan langsung mendapatkan kerja, hal ini berdampak pada angka pengagguran yang kian hari kian merangkak. Bukan hanya sulitnya lapangan kerja yang menyebabkan semua ini, tetapi pandangan masyarakat yang menganggap kerja bagi seorang sarjana itu hanya jika menjadi PNS atau pegawai dinas murahan lainnya, juga ikut menambah runyam suasana. Dan paradigma seperti ini seringkali menyebabkan seorang mahasiswa “buta” (menganggap rendah) pekerjaan selain menjadi PNS. “Masak capek-capek kuliah jualan gorengan”.
Selain itu, dikampus mahasiswa dijejali dengan ribuan teori yang sering kali bertolak belakang dengan realitas yang mereka hadapi, karena para dosen kurang berani melakukan kontekstualisasi terhadap mata kuliah yang mereka bawa, terlalu book thingking istilahnya Soekarno. Konsekwensi dari semua itu adalah matinya kreatifitas mahasiswa ketika berhadapan langsung dengan lingkungannya. Perguruan tinggi hanya menciptakan ribuan sarjana pencari kerja, bukan sarjana pencipta lapangan kerja, sebab kreatifitas mereka sudah dikungkung dengan ratusan teori yang merupakan hasil pemikiran orang lain. Jati diri mahasiswa seringkali hanya nampak ketika tengah menjalankan kuliah kerja nyata (KKN). Jika saja peran aktifnya di masyarakat seperti ketika mereka KKN bisa terus dilakukan sampai mereka benar-benar berada di tengah masyarakat, tentu saja tidak ada celah bagi mereka untuk menganggur. Dan julukan mahasiswa sebagai the agent of change memang pantas mereka sandang.
Oleh karena itu menurut hemat penulis, saat ini perguruan tinggi perlu mengembangkan semangat kemandirian dan menumbuhkan daya kreatifitas dalam diri mahasiswa. Selain itu, pemerintah dan perguruan tinggi yang ada juga perlu memikirkan peluang pengembangan kewirausahaan mahasiswa, sehingga  kedepan diharapkan muncul para sarjana yang memiliki skill wirausaha yang tangguh. Perlu diketahui bahwa banyak perusahaan-perusahaan besar yang ada sekarang ini, awalnya adalah dimulai dari usaha-usaha kecil yang dimotori oleh semangat kewirausahaan (entrepreneur spirit) dan sebagai penggerak aktivitas perekonomian masyarakat yang dapat menciptakan lapangan kerja.

Untuk itu pemerintah mesti mendorong lulusan perguruan tinggi menjadi wirausahawan yang kreatif menjadi UKM yang tangguh. Era otonomi merupakan masa yang tepat menumbuhkan wirausaha di daerah-daerah. Pemerintah daerah berkewajiban mendorong lulusan perguruan tinggi agar menjadi wirausahawan kreatif yang mampu mengolah kekayaan sumber-sumber alam pertanian, perkebunan, dan perikanan yang berorientasi kepada nilai tambah sehingga mempunyai nilai ekonomis yang lebih tinggi. Sehingga para sarjana tidak lagi dibuai oleh mimpi panjang menjadi Pegawai Negeri Sipil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar