Mahasiswa: Siap Kerja atau Menciptakan Lapangan Kerja?
*Oleh Muhammad Syaoki[1]
kita mesti berhenti membeli rumus - rumus asing
diktat - diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa - desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata
(penggalan sajak sebatang lisong karya WS Rendra)
Menarik
untuk diamati berbagai aksi unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa
akhir-akhir ini seringkali menuntut pemerintah baik di tingkat kabupaten
maupun di tingkat propensi untuk memperioritaskan putra daerah dalam
penerimaaan CPNS. Karena menurut anggapan sederhana mereka, bahwa
merekalah yang lebih berhak mengelola dan lebih mengetahui kondisi
daerah mereka sendiri. Hal tersebut tentu menjadi bumerang bagi suatu
daerah yang memiliki banyak penduduk dan taraf pendidikannya lumayan
tinggi, dengan sendirinya lebih kompetitif dalam mencari lapangan kerja.
Dan sebagai alternatif, maka daerah lain terutama yang baru melakukan
pemekaran adalah ladang basah bagi mereka. Rumput tetangga rupanya lebih
hijau,,,
Sekarang ini tercatat hampir 6 hingga 7 juta Pegawai
Negeri Sipil yang tersebar di berbgai daerah yang ada di Indonesia. PNS
sepertinya adalah pekerjaan pavorit di negeri ini, mungkin karena
masyarakat menganggap PNS adalah pekerjaan mudah yang menguntungkan,
konon bahkan tidur pun mereka digaji. Hari tua tidak terlalu menjadi
persoalan sebab uang pensiunan sudah menunggu. Selain itu status sosial
seorang PNS yang cukup bergengsi di mata masyarakat bila dibadingkan
dengan pekerjaan-pekerjaan lainnya. Sehingga wajar kenapa setiap kali
diadakan tes CPNS jutaan sarjana rela menunggu berjam-jam agar dapat
ikut serta dalam tes tersebut. bahkan tidak sedikit yang menggunakan
“jalur kiri”.
Di abad ke XXI ini rupanya bermodal ijazah saja
bukanlah jaminan seseorang yang telah menyelesaikan studinya akan
langsung mendapatkan kerja, hal ini berdampak pada angka pengagguran
yang kian hari kian merangkak. Bukan hanya sulitnya lapangan kerja yang
menyebabkan semua ini, tetapi pandangan masyarakat yang menganggap kerja
bagi seorang sarjana itu hanya jika menjadi PNS atau pegawai dinas
murahan lainnya, juga ikut menambah runyam suasana. Dan paradigma
seperti ini seringkali menyebabkan seorang mahasiswa “buta” (menganggap
rendah) pekerjaan selain menjadi PNS. “Masak capek-capek kuliah jualan gorengan”.
Selain
itu, dikampus mahasiswa dijejali dengan ribuan teori yang sering kali
bertolak belakang dengan realitas yang mereka hadapi, karena para dosen
kurang berani melakukan kontekstualisasi terhadap mata kuliah yang
mereka bawa, terlalu book thingking istilahnya Soekarno.
Konsekwensi dari semua itu adalah matinya kreatifitas mahasiswa ketika
berhadapan langsung dengan lingkungannya. Perguruan tinggi hanya
menciptakan ribuan sarjana pencari kerja, bukan sarjana pencipta
lapangan kerja, sebab kreatifitas mereka sudah dikungkung dengan ratusan
teori yang merupakan hasil pemikiran orang lain. Jati diri mahasiswa
seringkali hanya nampak ketika tengah menjalankan kuliah kerja nyata
(KKN). Jika saja peran aktifnya di masyarakat seperti ketika mereka KKN
bisa terus dilakukan sampai mereka benar-benar berada di tengah
masyarakat, tentu saja tidak ada celah bagi mereka untuk menganggur. Dan
julukan mahasiswa sebagai the agent of change memang pantas mereka sandang.
Oleh
karena itu menurut hemat penulis, saat ini perguruan tinggi perlu
mengembangkan semangat kemandirian dan menumbuhkan daya kreatifitas
dalam diri mahasiswa. Selain itu, pemerintah dan perguruan tinggi yang
ada juga perlu memikirkan peluang pengembangan kewirausahaan mahasiswa,
sehingga kedepan diharapkan muncul para sarjana yang memiliki skill
wirausaha yang tangguh. Perlu diketahui bahwa banyak
perusahaan-perusahaan besar yang ada sekarang ini, awalnya adalah
dimulai dari usaha-usaha kecil yang dimotori oleh semangat kewirausahaan
(entrepreneur spirit) dan sebagai penggerak aktivitas perekonomian masyarakat yang dapat menciptakan lapangan kerja.
Untuk
itu pemerintah mesti mendorong lulusan perguruan tinggi menjadi
wirausahawan yang kreatif menjadi UKM yang tangguh. Era otonomi
merupakan masa yang tepat menumbuhkan wirausaha di daerah-daerah.
Pemerintah daerah berkewajiban mendorong lulusan perguruan tinggi agar
menjadi wirausahawan kreatif yang mampu mengolah kekayaan sumber-sumber
alam pertanian, perkebunan, dan perikanan yang berorientasi kepada nilai
tambah sehingga mempunyai nilai ekonomis yang lebih tinggi. Sehingga
para sarjana tidak lagi dibuai oleh mimpi panjang menjadi Pegawai Negeri
Sipil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar