Opini

Senin, 17 Desember 2012

Mandikan Aku Bunda




Di bawah ini adalah salah satu contoh tragis. Sering kali orang tidak mensyukuri apa yang diMILIKInya sampai akhirnya Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ”Why not the best,” katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden Amerika. 
Mandikan Aku Bunda Mandikan Aku Bunda Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran. Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ‘’selevel”; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD. 
Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah ”alif” dan huruf terakhir ”ya”, jadilah nama yang enak didengar: Alifya. Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir. Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Setulusnya saya pernah bertanya, ”Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal? ” Dengan sigap Rani menjawab, ”Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!” Ucapannya itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sitter mahal. Rani tinggal mengontrol jadual Alif lewat telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti. 
Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak. ”Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.” Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya. Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik. Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini ”memahami” orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya ”malaikat kecilku”.  Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini. 
Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter. ”Alif ingin Bunda mandikan,” ujarnya penuh harap. Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut. Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ”Bunda, mandikan aku!” kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga. 
Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. ”Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.” Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late. Allah sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya. Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang menyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri. Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. ”Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,” ucapnya lirih, di tengah jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis. Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kami masih berdiri mematung di sisi pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu, berkata, ”Ini sudah takdir, ya kan. Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan?” Saya diam saja. Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya kosong. ”Ini konsekuensi sebuah pilihan,” lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja. Tiba-tiba Rani berlutut. ”Aku ibunyaaa!” serunya histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih tangisan yang meledak. ”Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..” Rani merintih mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di atasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. 
Senja pun makin tua. – Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong. – Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang amat sangat. – Sering kali orang sibuk ‘di luaran’, asik dengan dunianya dan ambisinya sendiri tidak mengabaikan orang-orang di dekatnya yang disayanginya. Akan masih ada waktu ‘nanti’ buat mereka jadi abaikan saja dulu. – 
Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan kasih sayang yang diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka akan mengerti karena mereka menyayanginya dan tetap akan ada. 

MEREKA LUPA BAHWA ALLAH YANG MENENTUKAN SEMUANYA. HIDUP, MATI, RIZQI, JODOH HANYA ALLAH YANG MENENTUKAN.


Jumat, 07 Desember 2012

Climate Change dan Ancaman Masa Depan Manusia


Tidak perlu mencari data dari Badan Pusat Statistik untuk mengetahui betapa dampak dari perubahan iklim sudah mulai mengeancam kelangsungan hidup manusia seluruhnya. Contoh kecil ketika terjadi musim kemarau hampir sebagian besar wialayah di Indonesia mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih. Belum lagi ketika musim penghujan datang, banjir selalu mengancam manusia dari segala lini. Seolah-olah hujan dan panas bukan lagi menjadi rahmat bagi manusia, tapi sebaliknya semua bentuk perubahan cuaca menjadi laknat bagi kelangsungan hidup kita.

 Daerah-daerah yang dulunya terkenal karena kesuburan tanahnya, kini sudah mulai terancam dengan kekeringan dan segala jenis bencana alam lainnya. Betapa kemudian kita menyaksikan pemerintah cukup dibuat repot dengan mensubsidi air bersih ke beberapa daerah ketika terjadi musim kemarau di pertengahan Agustus kemarin. Sekarang musim hujan mulai datang menyambangi kita. Di media-media elektronik kita sudah mulai menyaksikan banjir datang melanda beberapa daerah terutama sekali di Jakarta sebagai ibu kota Negara.

Belum lagi bencana lainnya yang disebabkan oleh perubahan iklim, diantaranya meningkatnya bencana badai, air pasang, gelombang tinggi yang kesemuanya telah mempengaruhi dan menghambat aktivitas masyarakat terutama sekali mereka yang bergerak di sektor kelautan. Ketahanan pangan kita juga terancam karena kenaikan suhu bumi 1 derajat celcius  saja akan mengurangi produktivitas pertanian hingga 10%. (DARA:2010) . Laporan United Nations Office of Coordination of Humanitarian Affairs mengindikasikan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang rentan terhadap bencana terkait dengan iklim.

Dalam skup yang lebih sempit, kita masyarakat Nusa Tenggara Barat sudah terlalu sering disambangi oleh dampak negatif perubahan iklim dengan segala bentuknya. Kekeringan yang terjadi di beberapa daerah di Lombok Utara, Lombok Tengah dan pulau Sumbawa cukup menjadi buktinya. Tanah longsor yang setiap tahun terjadi di kawasan wisata Pusuk juga misalnya, kerap mengancam nyawa para pengendara yang melintas di kawasan itu. Di kota Mataram yang dulu kita kenal dengan alamnya yang ramah, subur, gemah ripah loh jenawi, kini kita sudah mulai menyaksikan bencana banjir setiap tahunnya selalu mengancam kenyamanan warga kota.

Kenapa Terjadi Bencana?

Indonesia adalah salah satu negara penghasil emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang cukup signifikan di dunia. Hal tersebut terutama sekali disebabkan oleh kegiatan deforestisasi (penggundulan hutan) dan perubahan tata guna lahan. Indonesia menempati peringkat kedua setelah Brasil dalam tingkat kehilangan wilayah tutupan hutan (WRI 2006). Data resmi dari kementerian kehutanan tentang deforestisasi (penggundulan hutan) pada kurun waktu dua puluh tahun terakhir (1990-2010) sebesar 1,9 juta ha per tahun. Hal tersebut lebih disebabkan oleh berkurangnya tutupan hutan terjadi karena proses konversi kawasan hutan dan alih fungsi hutan secara massal untuk kegiatan produksi kayu, perkebunan, pertambangan, dan pertanian.

Aktivitas-aktivitas sederhana yang setiap hari kita lakukan seperti, pemakaian kertas, mesin cuci, plastik dan lain sebagainya, sebenarnya mempunyai andil yang besar dalam meningkatkan dampak negatif dari perubahan iklim. Akan tetapi karena kita sudah terlanjur terjebak pada ketergantungan terhadap barang-barang hasil teknologi tersebut sehingga sulit sekali bisa terlepas dari ketergantungan itu. Menjadi benar kemudian bahwa dalam pandangan Islam bencana terjadi karena ulah tangan manusia itu sendiri (Q.S.31:41). Segala bentuk bencana yang datang menyambangi manusia sebenarnya adalah konsekwensi dari perbuatan yang telah dilakukan oleh manusia itu sendiri.

Bagaimana Peranan Kita?

Untuk mengurangi laju perubahan iklim yang demikaian drastis, yang perlu kita lakukan adalah kerjasama lintas sektor, antar lembaga dan kelompok terkait. Lebih-lebih antar lembaga pemerintah baik eksekutif maupun legislatif. Sehingga kebijakan yang akan dibuat dapat mencapai sasaran secara efektif, yaitu masyarakat Indonesia yang memiliki daya tahan terhadap dampak negatif perubahan iklim.

Beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat telah menunjukkan komitmennya dalam rangka menangani masalah-masalah perubahan iklim serta dampaknya bagi kelangsungan hidup manusia khususnya di Indionesia. Beberapa LSM tersebut diantaranya: Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), The Nature Conservancy (TNC), WWF, Greenpeace Indonesia dan lain sebagainya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan diantaranya program restorasi lahan gambut, proteksi kawasan hutan tropis di berbagai daerah, mengurangi illegal loging, mencegah konversi hutan dan penanaman jutaan pohon.

Perlu juga kiranya kita membentuk komunitas-komunitas pencinta alam, atau komunitas-komunitas lain tapi banyak melakukan kegiatan yang mengarah kepada pelestarian alam. Misalnya club-club motor, kelompok belajar, gruf musik, namun menjadikan reboisasi sebagai agenda tetapnya. Di dunia pendidikan kita mengenal adanya Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) yang konsern terhadap kelestarian lingkungan dan alam sekitar.

Pemerintah perlu juga mengkaji ulang tentang konsep tata ruang pembangunan. Kesalahan dalam penataan ruang, baik di tingkat nasional maupun daerah dapat menyebabkan kerentanan terhadap dampak perubahan iklim. Banyak alih fungsi hutan lindung menjadi perumahan di tepi pantai, dapat mengancam kawasan pantai itu menjadi lebih rentan terhadap gelombang laut. Penataan ruang pantai perlu dilakukan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dan diupayakan untuk mempertahankan kawasan hutan mangrove yang masih tersedia bahkan ditingkatkan.

Penerapan green technology juga sepertinya merupakan sesuatu yang mendesak untuk kita lakukan. Pengembangan teknologi hendaknya terintegrasi dengan mempertimbangkan aspek ramah lingkungan dan lain sebagainya.

Disamping itu, banyak juga hal-hal kecil namun sangat berarti yang bisa kita lakukan dalam keseharian kita diantaranya dengan menghemat penggunaan barang-barang yang memiliki ketergantungan dengan listrik, misalnya menggunakan AC seperlunya saja, mematikan TV ketika siarannya tidak menarik, mengurangi penggunaan plastik, menggunakan sapu tangan sebagai pengganti tissue, karena semakin banyak penggunaan tissue maka akan semakin banyak pula pohon yang harus ditebang untuk pembuatannya. Yang juga tidak kalah pentingnya adalah melakukan kebiasaan hijau dimulai dari hal-hal kecil, membuat taman kecil depan rumah, menambah jumlah pot atau sekedar menanam rumput hijau. Pelihara semua tanaman agar memberi oksigen bagi lingkungan sekitar. Semakin banyak tanaman semakin banyak oksigen yang dibutuhkan.

Dengan melakukan hal-hal yang penulis sebutkan diatas, setidaknya kita berharap akan mampu meminimalisir efek negatif dari perubahan iklim. Dengan demikian bencana yang setiap saat mengancam eksistensi kita, bisa diantisipasi kedatangannya.

 

*Dimuat di Lombok Post 26 November 2012