Opini

Jumat, 07 Desember 2012

Climate Change dan Ancaman Masa Depan Manusia


Tidak perlu mencari data dari Badan Pusat Statistik untuk mengetahui betapa dampak dari perubahan iklim sudah mulai mengeancam kelangsungan hidup manusia seluruhnya. Contoh kecil ketika terjadi musim kemarau hampir sebagian besar wialayah di Indonesia mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih. Belum lagi ketika musim penghujan datang, banjir selalu mengancam manusia dari segala lini. Seolah-olah hujan dan panas bukan lagi menjadi rahmat bagi manusia, tapi sebaliknya semua bentuk perubahan cuaca menjadi laknat bagi kelangsungan hidup kita.

 Daerah-daerah yang dulunya terkenal karena kesuburan tanahnya, kini sudah mulai terancam dengan kekeringan dan segala jenis bencana alam lainnya. Betapa kemudian kita menyaksikan pemerintah cukup dibuat repot dengan mensubsidi air bersih ke beberapa daerah ketika terjadi musim kemarau di pertengahan Agustus kemarin. Sekarang musim hujan mulai datang menyambangi kita. Di media-media elektronik kita sudah mulai menyaksikan banjir datang melanda beberapa daerah terutama sekali di Jakarta sebagai ibu kota Negara.

Belum lagi bencana lainnya yang disebabkan oleh perubahan iklim, diantaranya meningkatnya bencana badai, air pasang, gelombang tinggi yang kesemuanya telah mempengaruhi dan menghambat aktivitas masyarakat terutama sekali mereka yang bergerak di sektor kelautan. Ketahanan pangan kita juga terancam karena kenaikan suhu bumi 1 derajat celcius  saja akan mengurangi produktivitas pertanian hingga 10%. (DARA:2010) . Laporan United Nations Office of Coordination of Humanitarian Affairs mengindikasikan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang rentan terhadap bencana terkait dengan iklim.

Dalam skup yang lebih sempit, kita masyarakat Nusa Tenggara Barat sudah terlalu sering disambangi oleh dampak negatif perubahan iklim dengan segala bentuknya. Kekeringan yang terjadi di beberapa daerah di Lombok Utara, Lombok Tengah dan pulau Sumbawa cukup menjadi buktinya. Tanah longsor yang setiap tahun terjadi di kawasan wisata Pusuk juga misalnya, kerap mengancam nyawa para pengendara yang melintas di kawasan itu. Di kota Mataram yang dulu kita kenal dengan alamnya yang ramah, subur, gemah ripah loh jenawi, kini kita sudah mulai menyaksikan bencana banjir setiap tahunnya selalu mengancam kenyamanan warga kota.

Kenapa Terjadi Bencana?

Indonesia adalah salah satu negara penghasil emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang cukup signifikan di dunia. Hal tersebut terutama sekali disebabkan oleh kegiatan deforestisasi (penggundulan hutan) dan perubahan tata guna lahan. Indonesia menempati peringkat kedua setelah Brasil dalam tingkat kehilangan wilayah tutupan hutan (WRI 2006). Data resmi dari kementerian kehutanan tentang deforestisasi (penggundulan hutan) pada kurun waktu dua puluh tahun terakhir (1990-2010) sebesar 1,9 juta ha per tahun. Hal tersebut lebih disebabkan oleh berkurangnya tutupan hutan terjadi karena proses konversi kawasan hutan dan alih fungsi hutan secara massal untuk kegiatan produksi kayu, perkebunan, pertambangan, dan pertanian.

Aktivitas-aktivitas sederhana yang setiap hari kita lakukan seperti, pemakaian kertas, mesin cuci, plastik dan lain sebagainya, sebenarnya mempunyai andil yang besar dalam meningkatkan dampak negatif dari perubahan iklim. Akan tetapi karena kita sudah terlanjur terjebak pada ketergantungan terhadap barang-barang hasil teknologi tersebut sehingga sulit sekali bisa terlepas dari ketergantungan itu. Menjadi benar kemudian bahwa dalam pandangan Islam bencana terjadi karena ulah tangan manusia itu sendiri (Q.S.31:41). Segala bentuk bencana yang datang menyambangi manusia sebenarnya adalah konsekwensi dari perbuatan yang telah dilakukan oleh manusia itu sendiri.

Bagaimana Peranan Kita?

Untuk mengurangi laju perubahan iklim yang demikaian drastis, yang perlu kita lakukan adalah kerjasama lintas sektor, antar lembaga dan kelompok terkait. Lebih-lebih antar lembaga pemerintah baik eksekutif maupun legislatif. Sehingga kebijakan yang akan dibuat dapat mencapai sasaran secara efektif, yaitu masyarakat Indonesia yang memiliki daya tahan terhadap dampak negatif perubahan iklim.

Beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat telah menunjukkan komitmennya dalam rangka menangani masalah-masalah perubahan iklim serta dampaknya bagi kelangsungan hidup manusia khususnya di Indionesia. Beberapa LSM tersebut diantaranya: Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), The Nature Conservancy (TNC), WWF, Greenpeace Indonesia dan lain sebagainya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan diantaranya program restorasi lahan gambut, proteksi kawasan hutan tropis di berbagai daerah, mengurangi illegal loging, mencegah konversi hutan dan penanaman jutaan pohon.

Perlu juga kiranya kita membentuk komunitas-komunitas pencinta alam, atau komunitas-komunitas lain tapi banyak melakukan kegiatan yang mengarah kepada pelestarian alam. Misalnya club-club motor, kelompok belajar, gruf musik, namun menjadikan reboisasi sebagai agenda tetapnya. Di dunia pendidikan kita mengenal adanya Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) yang konsern terhadap kelestarian lingkungan dan alam sekitar.

Pemerintah perlu juga mengkaji ulang tentang konsep tata ruang pembangunan. Kesalahan dalam penataan ruang, baik di tingkat nasional maupun daerah dapat menyebabkan kerentanan terhadap dampak perubahan iklim. Banyak alih fungsi hutan lindung menjadi perumahan di tepi pantai, dapat mengancam kawasan pantai itu menjadi lebih rentan terhadap gelombang laut. Penataan ruang pantai perlu dilakukan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan dan diupayakan untuk mempertahankan kawasan hutan mangrove yang masih tersedia bahkan ditingkatkan.

Penerapan green technology juga sepertinya merupakan sesuatu yang mendesak untuk kita lakukan. Pengembangan teknologi hendaknya terintegrasi dengan mempertimbangkan aspek ramah lingkungan dan lain sebagainya.

Disamping itu, banyak juga hal-hal kecil namun sangat berarti yang bisa kita lakukan dalam keseharian kita diantaranya dengan menghemat penggunaan barang-barang yang memiliki ketergantungan dengan listrik, misalnya menggunakan AC seperlunya saja, mematikan TV ketika siarannya tidak menarik, mengurangi penggunaan plastik, menggunakan sapu tangan sebagai pengganti tissue, karena semakin banyak penggunaan tissue maka akan semakin banyak pula pohon yang harus ditebang untuk pembuatannya. Yang juga tidak kalah pentingnya adalah melakukan kebiasaan hijau dimulai dari hal-hal kecil, membuat taman kecil depan rumah, menambah jumlah pot atau sekedar menanam rumput hijau. Pelihara semua tanaman agar memberi oksigen bagi lingkungan sekitar. Semakin banyak tanaman semakin banyak oksigen yang dibutuhkan.

Dengan melakukan hal-hal yang penulis sebutkan diatas, setidaknya kita berharap akan mampu meminimalisir efek negatif dari perubahan iklim. Dengan demikian bencana yang setiap saat mengancam eksistensi kita, bisa diantisipasi kedatangannya.

 

*Dimuat di Lombok Post 26 November 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar