Tidak perlu mencari
data dari Badan Pusat Statistik untuk mengetahui betapa dampak dari perubahan
iklim sudah mulai mengeancam kelangsungan hidup manusia seluruhnya. Contoh
kecil ketika terjadi musim kemarau hampir sebagian besar wialayah di Indonesia
mengalami kekeringan dan kekurangan air bersih. Belum lagi ketika musim
penghujan datang, banjir selalu mengancam manusia dari segala lini. Seolah-olah
hujan dan panas bukan lagi menjadi rahmat bagi manusia, tapi sebaliknya semua
bentuk perubahan cuaca menjadi laknat bagi kelangsungan hidup kita.
Daerah-daerah yang dulunya terkenal karena
kesuburan tanahnya, kini sudah mulai terancam dengan kekeringan dan segala
jenis bencana alam lainnya. Betapa kemudian kita menyaksikan pemerintah cukup
dibuat repot dengan mensubsidi air bersih ke beberapa daerah ketika terjadi
musim kemarau di pertengahan Agustus kemarin. Sekarang musim hujan mulai datang
menyambangi kita. Di media-media elektronik kita sudah mulai menyaksikan banjir
datang melanda beberapa daerah terutama sekali di Jakarta sebagai ibu kota Negara.
Belum lagi bencana
lainnya yang disebabkan oleh perubahan iklim, diantaranya meningkatnya bencana
badai, air pasang, gelombang tinggi yang kesemuanya telah mempengaruhi dan menghambat
aktivitas masyarakat terutama sekali mereka yang bergerak di sektor kelautan.
Ketahanan pangan kita juga terancam karena kenaikan suhu bumi 1 derajat
celcius saja akan mengurangi
produktivitas pertanian hingga 10%. (DARA:2010) . Laporan United Nations Office of Coordination of Humanitarian Affairs
mengindikasikan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang rentan
terhadap bencana terkait dengan iklim.
Dalam skup yang lebih
sempit, kita masyarakat Nusa Tenggara Barat sudah terlalu sering disambangi
oleh dampak negatif perubahan iklim dengan segala bentuknya. Kekeringan yang
terjadi di beberapa daerah di Lombok Utara, Lombok Tengah dan pulau Sumbawa cukup
menjadi buktinya. Tanah longsor yang setiap tahun terjadi di kawasan wisata Pusuk
juga misalnya, kerap mengancam nyawa para pengendara yang melintas di kawasan
itu. Di kota Mataram yang dulu kita kenal dengan alamnya yang ramah, subur, gemah ripah loh jenawi, kini kita sudah
mulai menyaksikan bencana banjir setiap tahunnya selalu mengancam kenyamanan
warga kota.
Kenapa
Terjadi Bencana?
Indonesia adalah salah
satu negara penghasil emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang cukup signifikan di
dunia. Hal tersebut terutama sekali disebabkan oleh kegiatan deforestisasi (penggundulan hutan) dan
perubahan tata guna lahan. Indonesia menempati peringkat kedua setelah Brasil dalam
tingkat kehilangan wilayah tutupan hutan (WRI 2006). Data resmi dari
kementerian kehutanan tentang deforestisasi (penggundulan hutan) pada kurun
waktu dua puluh tahun terakhir (1990-2010) sebesar 1,9 juta ha per tahun. Hal
tersebut lebih disebabkan oleh berkurangnya tutupan hutan terjadi karena proses
konversi kawasan hutan dan alih fungsi hutan secara massal untuk kegiatan
produksi kayu, perkebunan, pertambangan, dan pertanian.
Aktivitas-aktivitas
sederhana yang setiap hari kita lakukan seperti, pemakaian kertas, mesin cuci,
plastik dan lain sebagainya, sebenarnya mempunyai andil yang besar dalam
meningkatkan dampak negatif dari perubahan iklim. Akan tetapi karena kita sudah
terlanjur terjebak pada ketergantungan terhadap barang-barang hasil teknologi
tersebut sehingga sulit sekali bisa terlepas dari ketergantungan itu. Menjadi
benar kemudian bahwa dalam pandangan Islam bencana terjadi karena ulah tangan
manusia itu sendiri (Q.S.31:41). Segala bentuk bencana yang datang menyambangi
manusia sebenarnya adalah konsekwensi dari perbuatan yang telah dilakukan oleh
manusia itu sendiri.
Bagaimana
Peranan Kita?
Untuk mengurangi laju
perubahan iklim yang demikaian drastis, yang perlu kita lakukan adalah
kerjasama lintas sektor, antar lembaga dan kelompok terkait. Lebih-lebih antar
lembaga pemerintah baik eksekutif maupun legislatif. Sehingga kebijakan yang
akan dibuat dapat mencapai sasaran secara efektif, yaitu masyarakat Indonesia
yang memiliki daya tahan terhadap dampak negatif perubahan iklim.
Beberapa Lembaga
Swadaya Masyarakat telah menunjukkan komitmennya dalam rangka menangani
masalah-masalah perubahan iklim serta dampaknya bagi kelangsungan hidup manusia
khususnya di Indionesia. Beberapa LSM tersebut diantaranya: Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN),
The Nature Conservancy (TNC), WWF, Greenpeace Indonesia dan lain
sebagainya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan diantaranya program restorasi
lahan gambut, proteksi kawasan hutan tropis di berbagai daerah, mengurangi illegal loging, mencegah konversi hutan
dan penanaman jutaan pohon.
Perlu juga kiranya kita
membentuk komunitas-komunitas pencinta alam, atau komunitas-komunitas lain tapi
banyak melakukan kegiatan yang mengarah kepada pelestarian alam. Misalnya
club-club motor, kelompok belajar, gruf musik, namun menjadikan reboisasi sebagai agenda tetapnya. Di dunia
pendidikan kita mengenal adanya Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) yang konsern terhadap kelestarian lingkungan
dan alam sekitar.
Pemerintah perlu juga
mengkaji ulang tentang konsep tata ruang pembangunan. Kesalahan dalam penataan
ruang, baik di tingkat nasional maupun daerah dapat menyebabkan kerentanan
terhadap dampak perubahan iklim. Banyak alih fungsi hutan lindung menjadi
perumahan di tepi pantai, dapat mengancam kawasan pantai itu menjadi lebih
rentan terhadap gelombang laut. Penataan ruang pantai perlu dilakukan sesuai
dengan kriteria yang ditetapkan dan diupayakan untuk mempertahankan kawasan
hutan mangrove yang masih tersedia bahkan ditingkatkan.
Penerapan green technology juga sepertinya
merupakan sesuatu yang mendesak untuk kita lakukan. Pengembangan teknologi
hendaknya terintegrasi dengan mempertimbangkan aspek ramah lingkungan dan lain
sebagainya.
Disamping itu, banyak
juga hal-hal kecil namun sangat berarti yang bisa kita lakukan dalam keseharian
kita diantaranya dengan menghemat penggunaan barang-barang yang memiliki
ketergantungan dengan listrik, misalnya menggunakan AC seperlunya saja,
mematikan TV ketika siarannya tidak menarik, mengurangi penggunaan plastik,
menggunakan sapu tangan sebagai pengganti tissue, karena semakin banyak
penggunaan tissue maka akan semakin banyak pula pohon yang harus ditebang untuk
pembuatannya.
Yang juga tidak kalah pentingnya adalah melakukan kebiasaan hijau
dimulai dari hal-hal kecil, membuat taman kecil depan rumah, menambah jumlah
pot atau sekedar menanam rumput hijau. Pelihara semua tanaman agar memberi
oksigen bagi lingkungan sekitar. Semakin banyak tanaman semakin banyak oksigen
yang dibutuhkan.
Dengan melakukan
hal-hal yang penulis sebutkan diatas, setidaknya kita berharap akan mampu
meminimalisir efek negatif dari perubahan iklim. Dengan demikian bencana yang
setiap saat mengancam eksistensi kita, bisa diantisipasi kedatangannya.
*Dimuat di Lombok Post 26 November 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar